Sunday, April 08, 2007

WAYANG GOKIL

Kadang bisot iri kalau melihat saudara sepadepokan bisot yang juga nge blog disini, siapa lagi kalo bukan Raden Mas Upilstanso dan Akang Ochep. Dari sekian banyak rasa iri, bisot mau cerita salah satunya saja.
Hmmm apa yah, oh itu loh, wayang. Wayang itu asli cuma ada di Indonesia, yah walaupun tokoh-tokoh wayang diadaptasi dari tokoh "kisah mahabaratha" dlsb. Maaf, kata "Kisah Mahabrata" bisot kutip dari lagu "panggung sandiwara" Ahmad Albar karena setahu bisot kisah itu diambil dari salah satu kitab suci agama dunia.

Raden Mas Upilstanto dapat menikmati tayangan wayang kulit atau wayang orang, Akang Ochep dapat menikmati wayang golek. Bisot...... kalaupun bisa disamakan yah bisa juga menikmati Si Komo nya Kak Seto. Apa bisot hanya boleh menikmati topeng betawi? Kisah Epik Pahlawan Bugis-Makassar dalam budaya lisan Sindrilli Makassar dan Kecaping Bugis? No way... !!!

Aduh kenapa sih, wayang kulit harus pake Bahasa Jawa Kromo Inggil, kenapa sih Wayang Golek harus pakai Bahasa Sunda. Seharusnya yang namanya kebudayaan dan hasil budaya bisa aja berkembang mengikuti perkembangan jaman, kalau enggak yah paling beruntung masuk museum atau dilupakan. Lenyap ditelan teknologi media yang menyuguhkan kisah Harry Potter dan sinetron plesetan opera sabun yang isinya intrik, cinta yang didramatisir seaneh-anehnya dengan latar belakang keluarga kelas menengah keatas tanpa kerja yang jelas beugh...

Bisot pernah dijelaskan, katanya kalo wayang golek lebih bebas, pernah lihat tayangan Asep Show khan disalah satu stasiun televisi?, kalo wayang kulit gak boleh diperlakukan seperti itu. Wayang kulit itu ada pakemnya, kredo yang harus ditaati oleh dalangnya. "Inggih Mbah Upilll".

Okelah, ada wayang kulit, wayang golek, wayang orang. adakah wayang yang lainnya?

Kalo gak bisa jawab bisot kasih bocoran yah, sekarang sudah lahir yang namanya "Wayang Gokil". Suerrrr Brur n ses, kali ini bisot gak ngecap doang. Tanya aja sama Mbah Google kalo gak percaya.

Tanggal 10 Januari kemaren, bertempat di Museum Wayang Jakarta, mantan pacar gue didunia khayalan gue My Lovely Dian Sastro Wardoyo dapet job sebagai pengisi suara Shinta dalam lakon Ramayana. Dalangnya Indra Bekti "Ceriwis".

"Sebentar dulu bro, kok ada dalangnya?" potong buset
"Yah bukan dalang seh, narator" elak bisot
"Gak, bukan soal sebutan itu, bro... kalo ada dalang berarti tetep pake wayang beneran dunk?"
"Ember..." jawab bisot
"Pake wayang kulit apa wayang golek?" korek buset.
"Yeeee, meneketehe, diantara keduanya lah, kayaknya sih wayang kulit tuh"
"Kalo ada dalangnya, kok suara Dian Satro dipake?"
"Lha iya, Farhan ngisi suara Rahwana, Lembu "Club Eighties" ngisi suara Rhama"
"Lho kok gitu, kan ada Indra bekti yang jadi dalang"
"Dalang lulusan maaaana???, IPDN (Institut Pemerintahan Dalang Negeri) ???"
"Ah gue bingung" buset putus asa
"Yeee, namanya aja wayang gokil, yah gokil deh, musik pengiringnya aja bukan gamelan dan sinden"
"Lha elo tahu dari mana????" buset mulai esmosi
"Mangkanya set, Iqra.... baca!!! baca!!!, percuma lo lulus kejar paket A kalo gak dipake"

reff
Majalah WBC Edisi 389 April 2007 Hal. 80.

Catatan
IPDN Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Dalam dialek Bugis-Makassar kata "dalam" biasa terucap menjadi "dalang" (okots).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home